Letak, Luas, dan Lokasi

     Secara geografis Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terletak memanjang dari barat laut ke tenggara di tengah-tengah Pegunungan Bukit Barisan Sumatra pada koordinat 100°31'18"E-102°44'01"E dan 1°07'13"S-1°26'14"S. Secara administratif wilayah TNKS berada di 13 (tiga belas) Kabupaten dan 2 (dua) Kota yang termasuk dalam 4 (empat) Provinsi

  1. Tahun 1982: Menteri Pertanian mengumumkan kawasan seluas ± 1.424.650 ha di Sumatra sebagai calon taman nasional (Pernyataan Mentan No.736/Mentan/X/1982). Kawasan tersebut merupakan gabungan dari 17 kelompok hutan yang semuanya merupakan bagian hutan lindung register tahun 1921–1926 serta cagar alam dan suaka marga satwa yang ditetapkan dalam kurun waktu 1978-1981.
  2. Tahun 1996: setelah melalui proses pengkajian dan penataan yang cukup panjang, Menteri Kehutanan mengukuhkan kawasan seluas ± 1.368.000 hektar sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 192/Kpts-II/1996.
  3. Tahun 1999: Menteri Kehutanan dan Perkebunan secara resmi menetapkan kawasan TNKS seluas ± 1.375.349, 867 ha melalui surat keputusan nomor 901/Kpts-II/1999.
  4. Tahun tahun 2004: Menteri Kehutanan menetapkan perubahan fungsi kawasan hutan produksi di Sipurak Hook seluas ± 14.160 hektar menjadi bagian dari kawasan TNKS melalui surat keputusan nomor 420/Menhut-II/2004. Dengan penambahan tersebut, luas TNKS menjadi ± 1.389.509,867 hektar
  1. Dari Padang terdapat dua jalan alternatif menuju kawasan TNKS. Alternatif pertama yakni menyusuri pantai barat ke arah tenggara menuju kota Painan untuk menuju kawasan TNKS yang ada di Painan. Perjalanan darat dari Padang ke Painan memerlukan waktu 2-2.5 jam dengan jarak tempuh ± 80 km. Dari kota Painan dapat juga melanjutkan perjalanan ke arah tenggara melalui jalan lintas Sumatra Barat-Bengkulu sampai ke Tapan, kemudian berbelok ke arah timur menuju Bukit Tapan melewati zona khusus TNKS dengan jarak tempuh ± 160 km dan waktu tempuh 3.5-4 jam. Alternatif kedua dari Kota Padang adalah ke arah tenggara melalui jalan Alahan Panjang–Muara Labuh untuk sampai pada kawasan TNKS di Muara Labuh, melalui Kabupaten Solok, dan Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Perjalanan dari kota Padang menuju pintu jalur pendakian Gunung Kerinci di Bukit Bontak, Kabupaten Solok Selatan dapat ditempuh dalam waktu 4.5-5 jam dengan jarak ± 157 km.
  2. Dari Jambi hanya satu jalan, yaitu melalui Muara Bulian, Sarolangun kemudian Bangko, dari Bangko terdapat dua jalur menuju kawasan TNKS yaitu menyusuri jalan lereng-lereng bukit untuk kawasan TNKS di Pangkalan Jambu, sampai Muara Hemat dan memasuki Kerinci dari arah timur, yang kedua adalah melalui jalan lintas Bangko-Sumatra Barat menuju Muara Bungo. Dari jalan Bangko-Muara Hemat terdapat pertigaan jalan kecil ke arah selatan menuju kawasan TNKS di Jangkat dan lembah Sipurak Hook. Dari Kota Sungai Penuh, kawasan TNKS terdekat berada di Bukit Tapan dengan jarak tempuh ± 16 km dan waktu tempuh 30-40 menit. Sedangkan dari Kota Sungai Penuh menuju pintu pendakian Gunung Kerinci di Kersik Tuo dapat ditempuh dengan waktu 1-1.5 jam dengan jarak ± 44 km. Alternatif lain dari Ibukota Provinsi Jambi dapat menggunakan jalur udara dari Bandara Sultan Thaha di Jambi menuju Bandara Depati Parbo di Kabupaten Kerinci dengan waktu tempuh ± 2 jam dengan terlebih dahulu transit di Bandara Muara Bungo di Kabupaten Bungo. Bandara Depati Parbo berjarak ± 25 km dari kawasan TNKS di Bukit Tapan dengan waktu tempuh sekitar 50-60 menit. Sedangkan dari Bandara menuju ke pintu pendakian Gunung Kerinci di Kersik Tuo memerlukan waktu 1.5-2 jam dengan jarak tempuh ± 53 km.
  3. Dari Bengkulu untuk menuju kawasan TNKS yang terdekat adalah melalui Curup. Dari Curup dapat menuju ke arah Muara Aman untuk kawasan TNKS di Kabupaten Lebong, maupun menuju Pal VII dan Padang Ulak Tanding untuk kawasan TNKS di Kabupaten Rejang Lebong. Sedangkan untuk menuju kawasan TNKS Bengkulu Utara maupun Mukomuko dapat ditempuh baik melalui Curup-Muara Aman-Argamakmur-Sungai Ipuh-Mukomuko.
  4. Akses terdekat ke kawasan dari Palembang adalah menuju kawasan TNKS di Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara. Saat ini tersedia tiga moda transportasi dari Palembang menuju Kota Lubuk Linggau, yaitu pesawat, kereta api dan kendaraan bermotor. Pesawat dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menuju Bandara Silampari di Kota Lubuk Linggau dapat ditempuh dalam waktu ± 45-60 menit. Kereta api dari Stasiun Kertapati di Palembang menuju Stasiun Lubuk Linggau di Kota Lubuk Linggau dapat ditempuh dalam waktu 7-8 jam. Selanjutnya dari stasiun Lubuk Linggau menuju kawasan TNKS terdekat di Bukit Sulap berjarak ± 3.2 km dengan waktu tempuh 10-15 menit.
    Melalui jalan darat menggunakan kendaraan bermotor dari Kota Palembang ke kawasan TNKS di Bukit Sulap, Kota Lubuk Linggau dapat ditempuh dalam waktu 7-8 jam dengan jarak ±3 14 km.

Kondisi Fisik Kawasan

Iklim

Menurut klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson, kawasan TNKS beriklim Basah Tipe A dengan rata-rata curah hujan tahunan 2.991 mm, rata-rata temperatur 16°-28° Celcius, kelembaban relatif udara 77%-92%, dan bulan keringnya < 2 bulan per tahun. Musim hujan terjadi pada bulan November sampai April, sedangkan musim kemarau pada bulan April sampai Oktober. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa kisaran tersebut sering berubah karena tidak terlepas dari pengaruh iklim secara global.

Kawasan TNKS merupakan bagian tengah dari Bukit Barisan yang terdiri dari daerah yang bergunung-gunung. Kondisi ini menyebabkan topografi curam sampai sangat curam dengan sedikit dataran berlereng landai sampai agak curam. Kawasan TNKS berada pada ketinggian 500 sampai dengan 3.805 m di atas permukaan laut (dpl). Sebagian besar kawasan merupakan rangkaian gunung api, baik yang masih aktif maupun yang tidak dengan beberapa puncak diatas 2.500 m dpl. Puncak tertinggi adalah Gunung Kerinci (3.805 m dpl) yang juga merupakan titik tertinggi di pulau Sumatra. Selain itu, dapat dijumpai sekitar 30 gunung atau bukit, diantaranya: Gunung Kerinci (3.805 m dpl); Gunung Tujuh (2.604 m dpl); Gunung Seblat (2.383 m dpl); Gunung Raya (2.543 m dpl); Gunung Nilo (2.400 m dpl); Gunung Masurai (2.600 m dpl); dan Gunung Sumbing (2.500 m dpl).

Struktur tektonik TNKS adalah memanjang dari Utara ke Selatan pulau Sumatra, yang membagi Bukit Barisan menjadi dua rentang pararel yang dipisahkan oleh rift valley (lembah celah besar). Letusan gunung api telah membagi pusat lembah tersebut menjadi beberapa bagian, seperti di Sungai Penuh. Lembah ini secara bertahap dipenuhi dengan endapan aluvial, dan membentuk sebuah danau. Sisi Barat Bukit Barisan (yang kemiringannya naik dari pantai barat) adalah pegunungan dengan ketinggian sedang (kira-kira 2000 m dpl), sedangkan di sisi Timur, pegunungan lebih rendah dengan ketinggian rata-rata 800-1500 m dpl (Laumonier, 1994).Gunung-gunung di kawasan TNKS terutama terdiri dari batuan metamorf yang terbentuk kembali, rentang karst, dan massa granit besar, semuanya bercampur dengan letusan vulkanik dari gunung berapi di dekatnya. Produk vulkanik yang ditemukan dalam jajarannya sangat kaya akan plagioclasses dan umumnya bersifat asam (dacitic-liparitic). "Andesit Tersier Tua" di pantai barat dibedakan dari lava yang sangat asam yang timbul dari gunung api tersier tua yang masih aktif dan dari lava menengah yang dilepaskan oleh gunung berapi kuarter (Laumonier, 1994).

Tanah di kawasan TNKS dikategorikan sebagai alluvial di dataran rendah sampai vulkanik di pegunungan. Sementara berdasarkan tipe tanah dikategorikan sebagai podsolik yang kurang subur dan mudah tererosi. Menurut Laumonier (1994), kawasan TNKS pada ketinggian yang lebih rendah didominasi oleh tanah latosol, sedangkan tanah kambisol menjadi dominan di perbukitan (terutama perbukitan yang merupakan formasi geologis terkini). Tanah cokelat ini memiliki horizon atas berpasir setebal 5-20 cm di atas horizon kambik B yang memiliki struktur bersudut atau gumpal. Meskipun kandungan tanah liat biasanya pada titik tertinggi di horizon kambik B, tingkat tanah liat relatif bahkan di seluruh profil.PH tanah bervariasi dari 5,0-6,5 dan meningkat dengan kedalaman (setidaknya di dalam material andesit). Kandungan bahan organik dari horizon atas bervariasi dari 3-15%, dengan rasio C/N berkisar 8-12. Kapasitas pertukaran kation tanah adalah sekitar 15-30 meq per 100 g tanah di permukaan dan berkurang dengan kedalaman. Kalsium biasanya merupakan kation dominan, tetapi magnesium juga penting.

Kawasan TNKS sangat penting karena menjadi daerah tangkapan air dan menjadi hulu sungai-sungai besar dan kecil yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, baik sebagai air yang dimanfaatkan langsung, pengairan, penggunaan domestik bahkan sebagai pembangkit tenaga listrik. Kawasan TNKS merupakan hulu penting bagi DAS (daerah aliran sungai) Batang Hari (sub-DAS Merangin, Tebo, Tabir, Sangir), DAS Musi (sub-DAS Rawas, Rupit, dan Lakitan), dan DAS Pantai Barat Sumatra (sub-DAS Manjunto, Selagan, Ketahun, Ipuh, Sebelat, Dikit dan Indrapura).Kawasan TNKS memberikan kontribusi hidrologis dan ekologis bagi lebih dari 10 juta hektar lahan pertanian. Lahan tersebut sangat tergantung dengan kelestarian kawasan ini untuk meningkatkan dan mempertahankan produksinya. Menjadi sumber air bersih bagi sekitar lima juta penduduk di empat provinsi. Menjadi sumber energi untuk pembangkit PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air); 670 megawatt di Provinsi Jambi, 388 megawatt di Sumatra Barat, 16 juta watt di Bengkulu, dan 210 juta watt di Sumatra Selatan.

Scroll to Top