
Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) yang jatuh pada setiap awal bulan Februari mendapatkan panggung perayaannya yang paling autentik di Rawa Bento, sebuah ekosistem rawa unik yang terletak di dataran tinggi Kabupaten Kerinci. Berada pada elevasi lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut, Rawa Bento menyandang predikat sebagai rawa tertinggi di Sumatera dan merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari hidrologi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Acara peringatan ini digagas untuk meluruskan stigma usang yang sering menganggap rawa sebagai area sarang penyakit atau lahan terbengkalai yang harus dikeringkan. Sebaliknya, melalui festival edukasi ini, otoritas lingkungan hidup dan penggiat konservasi mengedukasi masyarakat bahwa Rawa Bento adalah “ginjal raksasa” yang secara alami menyaring polutan air dan bertindak sebagai spons penyerap air hujan raksasa yang mencegah banjir bandang bagi desa-desa di lembah Kerinci.
Kegiatan utama dalam perayaan di Rawa Bento diwarnai dengan aksi ekologi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Salah satu agenda utamanya adalah penyusuran rawa menggunakan puluhan perahu tradisional kayu (payang) secara serentak, bukan hanya untuk menikmati pemandangan, tetapi untuk melakukan operasi pembersihan gulma invasif seperti eceng gondok yang dapat menghambat aliran sungai, serta memungut sampah plastik yang terbawa dari hulu. Selain itu, acara ini juga diramaikan dengan pelepasliaran ribuan bibit ikan endemik Sumatera, seperti ikan semah dan ikan seluang, guna memperkaya rantai makanan dan menjaga populasi perikanan tangkap yang menjadi sumber protein dan mata pencaharian nelayan tradisional setempat. Di tepi rawa, para ornitholog dan fotografer alam juga berkumpul untuk mengadakan sesi birdwatching massal, mengamati burung-burung migran yang singgah di ekosistem basah ini.
Lebih dari sekadar seremonial pelestarian lingkungan, Hari Lahan Basah Sedunia di Rawa Bento juga menjadi momentum strategis untuk mendongkrak perekonomian desa melalui promosi ekowisata minat khusus. Acara ini menarik kunjungan wisatawan domestik dan mahasiswa peneliti yang ingin belajar langsung tentang keanekaragaman hayati lahan basah pegunungan. Masyarakat setempat diberikan panggung untuk menjajakan kuliner khas, menyewakan fasilitas kemping ramah lingkungan, dan menawarkan jasa pemandu wisata susur rawa. Melalui integrasi antara aksi konservasi dan pemberdayaan ekonomi sirkular ini, masyarakat semakin menyadari bahwa menjaga kelestarian Rawa Bento dalam kondisi aslinya jauh lebih menguntungkan secara finansial di masa depan dibandingkan dengan mengubahnya menjadi lahan perkebunan atau pertanian semusim.
Generated by Gemini
